Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]

 

          Kali ini akan kuceritakan tentang ebhu, saudari perempuan mbuk. Ia seperti ibuku sendiri setelah mbuk. Kepulangannya ke montorna, yang katanya karena bercerai dengan suaminya membuat ebhu sangat dekat dengan keponakan- keponakannya, termasuk aku. Bukan tidak punya anak, tapi anak- anak ebhu tinggal bersama bapaknya  di perancak. Aku tidak ingat saat ia pulang. Mungkin karena usiaku sangat belia waktu itu. Akan tetapi yang terpenting adalah aku ingat bahwa ebhu menaruh perhatian lebih terhadapku daripada sekedar  seorang bibi, meski nyatanya jarakku mulai mengikis sebab aku yang terlalu sibuk dengan duniaku. Ebhu? Dia tetap ebu yang ku kenal dahulu. 

      Saat kecil, dimana aku belum mondok ke sebuah pesantren, selain bik lila ebhu rutin sekali mencari kutu di kepalaku. Aku memang gadis yang kutuan pada waktu itu. Aku jadi rindu dimana jari -jarinya bergerak lincah mencari kutu, menghilangkan rasa gatal yg merajalela. Aku juga sering bicara banyak dengannya, kadang aku bertanya tentang apa yang sering ebhu tulis menggunakan huruf hijaiyah. 

"Apa yang ebhu tulis? "

"Ini syair madura buat muslimatan nanti, ebhu dikasih nyai sundira sewaktu sowan kemaren"  Jadilah pembicaraan itu panjang lebar sebab aku bertanya banyak hal, sebab ebhu memberi petuah yang banyak pula. Salah satunya, 

"Sama guru nak, nggak boleh putus sering-seringlah sowan biar ilmu yang kita peroleh barokah dan manfaat"

Ebhu memang tidak pernah lupa terhadap gurunya. Ebhu juga sosok yang selalu berdiri di depan jika ada orang mau mencari ilmu. Kelihatannya beliau sangat mencintai ilmu. Ah, sayang sekali pada zamannya pendidikan belum seperti sekarang ini. 

       Ada kejadian saat kecil yang membuatku terharu. Yaitu ketika ada peraktek shalat  dikelasku yang kebetulan kelasnya  numpang di rumahnya (madrasah belum didirikan saat itu) , ebhu semangat sekali dalam mengucapkan sebuah janji; kalau lancar dan fasih bacaaannya akan ebhu kasih hadiah hari ini juga. 

      Dan benar juga, ketika bacaan shalatku tiba di tahiyyat akhir, ebhu memakaikan kerudung kecil di kepalaku. Rupanya aku lulus dalam persyaratan nnya. Aku bahagia sekaligus kagum terhadapnya. 

            ###

         Namun hidup ebhu berubah saat sebuah penyakit diidapnya. Itu terjadi kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Aku tidak tau persis nama penyakit itu. Akan tetapi yang pasti ebhu tidak bisa berjalan. Ia harus di gotong saat ke kamar mandi. Dan aku sering merawatnya; mulai dari mencuci bajunya serta menuntunnya berwudu'. Anak- anak sering datang berkunjung, ikut merawatnya. Itulah awal mereka menanyakan kabar ebhu terhadapku sebab ebhu tidak memiliki aplikasi watshap hingga ajal menjemputnya kemarin. 

         Tahun- tahun setelahnya penyakit ebhu bisa dikatakan sembuh. Hanya saja beliau tidak sesehat sebelumnya. Dan saat itulah awal mulaku mengikis jarak dengannya. 

          Aku sudah remaja, masuk pondok pesantren, mengenal  media sosial, tahu kehidupan kehidupan yang bikin candu yang menyebabkan aku tidak lagi sering mengobrol dengannya, tidak lagi mengetahui apa pekerjaannya bahkan tidak lagi mengetahui kalau -kalau di sebagian badannya sering kali ada yang terluka, terutama kakinya. Ya, paling- paling kalau mpuk, anaknya ebhu minta aku fotoin kaki ebhu untuk dilihatnya atau kalau ebhu minta tolong untuk cek pulsa di hapenya. Itupun aku masih lamban mengabulinya. Padahal beliau tidak lupa menghadiri acaraku di pondok kalau ada kesempatan walaupun  mungkin alasannya sekaligus ikut ajian tausiyah karena memang beliau menyukainya. Ia sering kulihat datang bersama mbuk ke pesantren. 

          Hal yang paling tidak pernah aku lupa saat suaranya memanggilku ketika aku akan balik ke pondok pesantren. 

           "Ro.. "

           " Apa bhu" 

           "Katanya akan balik ke pondok sekarang? "

          Tanyanya. 

           " Iya" 

Ia mengeluarkan uang lima ribuan beberapa lembar atau kemaren terakhir kalinya dua ribuan hingga beberapa lembar, Katanya tidak lagi ada uang bernominal sedang di dompetnya. Hal ini rutin sekali dilakukan, lain masih kalau panennya untung beliau menitipkan uang kepadaku lewat mbuk. Hingga tiba di mana hari itu mengakhiri hidupnya dalam masa sakit   dua hari yang dikira sakit biasa saja. Ada kemungkinan beliau ditakdirkan tidak akan merepotkan orang lain. Saat itu aku benar-benar  terkejut kemudian menangis di samping jasadnya yang sudah terbaring lemah. Anak-anak ebhu mengaji disampingnya tanpa meluputkan air mata. Mbuk dan nyai sama halnya. Hingga tiba sesuatu yang membuatku terpaku. Yaitu sebuah rentetan bunga mengilau dengan sisa- sisa air yang semakin memperlihatkan keindahannya. Bunga itu dikalungkan di atas keranda. Aku langsung bergumam sendiri "semoga ebhu secantik bunga itu di surga".

                 

1 comment:

Anonymous said...

Terkadang kita merasa lebih buruk dari orang lain, padahal nyatanya tidak, semuanya sama

Bottom Ad [Post Page]