Full width home advertisement

Travel the world

Climb the mountains

Post Page Advertisement [Top]

dua mata

 


                Satu

                Matahari bersinar dengan terangnya, bersamaan den gan panasnya yang begitu terik, memaksa keringatku untuk bercucuran membasahi setiap rongga tubuhku dan menemus bajuku. Kucabuti pohon-pohon kacang dari gundukan-gundukan tanah dengan gontai.

                Matahari semakin terik, suhunya semakin meningkat beriringan dengan naiknya kepuncak semesta. Akupun tak kuasa menahan, sehingga memaksaku untuk berteduh mencari temat yang rindang untuk mendinginkan tubuhku. Akupun berteduh dibawah pohon mangga  yang rindang dan teduh menantang teriknya matahari, kupejamkan mataku, sambil mengingat masa-masa indahku saat masih berada di bangku SMA. Kujalani hari dengan penuh semangat, sehingga mengantarkanku menjadi siswa terbaik di seangkatanku. Namun sayang, karena factor ekonomi, akupun tidak dapat melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Orang tuaku meniahkanku dengan seorang pria yang tidak dapat mengubah kehiupanku.

                Akupun teringat dengan salahsatu temanku saat itu, Hana namanya, berbeda denganku, dia dari keluarga yang berpunya, sehingga dapat melanjukan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Sungguh beruntung dia.

                Mataku masih terpejam samai terdengar bunyi sepeda motor yang berhenti ekat disampingku, kubuka mataku untuk mematikan siapa gerangan yang datang.

                Terlihat olehku, seorang wanita yang menggunakan masker datang menghampiri, kukernyitkan dahiku, karena penasaranku. Penasaran masih memenuhi hatiku, sampai wanita itu membuka cadarku, betapa terkejutnya diriku, setelah mengetahui bahwa wanita didepanku adalah orang yang sedang aku hayalkan, iya dia adalah Hana.

                “hai nis, apa kabar” sapanya padaku. “baik” ucapku dengan tanggas, kamipun bercengkrama agak lama sambil membicarakan nasib masing-masing. Ternyata dia sekarang sudah menikah dengan seorang peria kaya dan tinggal di sekitar sini. Sungguh betapa bahagianya dia, kulihat pakaiannya yang bagus dan rapi, bertanda dia memang orang berpunya, dan tentu sangat kontras dengan pakaianku yang kumal dan kotor.

                Lama kami bercakap, sampai suamiku datang menjemputku dengan menumpangi sepeda bravo kesayangannya. Akupun pamit undur diri pada Hana dan segera menaiki motor suamiku.

                Dua

                Kulihat nisa yang menaiki motor suaminya, sambil tangannya merangkul pada perut suaminya. Mataku terus mengekorinya sampai dia hilang di persimpangan.  Lamunanku segera berhenti setelah mendengar ponselku bordering. Terlihat nama suamiku terpampang di notifikasi panggilan, kudekatkan ponselku pada telinga. “ maaf dik, malam ini saya tidak bisa pulang lagi, maih ada urusan dikantor.” Ucanya dari sebrang. Kutarik napasku dalam-dalam sambil membayangkan kebahagiaan nisa yang selalu dapat bersama dengan suaminya. Tuhan maha adil, sekarang aku tahu, harta bukan penjamin kebahagiaan. Betapa bahagianya dia, dapat setiap hari bersama dengan suaminya, bermesraan bersama. berbeda dengan diriku, yang setiap malam tidur bersanding dengan bantal, hanya siulan burung yang akan didengar saat pagi hari. Sudah seminggu suamiku berada di luarkota, karena urusan pekerjaannya. Biasanya dia akan pulang, walau hanya semalam dan berangkat lagi, sampai aku benar-benar rindu.


1 comment:

Anonymous said...

Terbaik

Bottom Ad [Post Page]